selulosa banyak terdapat di alam, contohnya seperti alang-alang, sabuk kelapa, tandan kosong kelapa, batang sagu, kayu, dan lain-lain. sebagian besar komposisi dari contoh diatas terdiri dari selulosa. Dari contoh diatas dapat kita ketahui bahwa selulosa itu sangat melimpah di alam. namun, pada kenyataannya dapat dilihat bahwa penggunaan selulosa sangat terbatas.
01 April 2013
Penguraian selulosa paling baik dari Pegunungan Papua
Label:
Biokimia,
papua,
Tanaman Papua
spesifikasi komputer Khusus untuk desiain grafis dan animator (pemula & menengah)

setiap orang pasti punya impian untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. baik dalam waktu yang dekat maupun dalam waktu yang cukup lama. semuanya itu tentu dibarengi dengan dukungan finansial. kata orang, "'teknik/skill saja tra cukup kalo tidak didukung dengan finansial". ya, kira-kira bgitulah..... hehehehee...
berikut ini adalah spesifikasi komputer yang za rekomendasikan untuk komputer yang dikhususkan untuk animator. ya, mungkin ini juga spek impian saya. tapi tra tau kapan baru barang ini milik nanti..hehehhe...
Rincian Dana:
ASUS Motherboard: Socket AM3 / AM3+. = Rp 3,473,800
Processor : AMD Vishera FX-8350 4.0GHz 8-Cores = Rp 1.951.000,00
Processor cooler: Noctua NH-C14 = Rp.782.000,-
VGA: HIS HD 7850 2Gb DDR5 Ati Radeon PCI Exp = Rp. 2.128.000
RAM: kingston 8GB DDR3 = Rp. 800.000,-
HDD: TOSHIBA 2tb Storage Device Internal = Rp 1,400,000
Power supply + casing CPU = Rp. 1.200.000
DVD room = Rp. 700.000
Label:
hardware
06 March 2013
ANAK KECIL LAHIR CACAT AKIBAT PEMBUANGAN LIMBAH YANG TRA BENAR
Di kesempatan ini saya ingin memberikan sedikit pandangan menurut ilmu yang pernah saya dapatkan selama ini. hal ini bukan karena saya tidak meyakini hal-hal mistis yang terjadi di daerah sana, terutama di Timika-Papua. pada tahun 2012 yang lalu, ada beredar video bayi yang lahir tanpa tengkorak kepala yang lengkap (bolong tengah). waktu itu, video tersebut saya lihat secara tidak sengaja saat teman (pacar) saya menyimpannya di dalam laptop.
saya sangat terkejut melihat video tersebut. tidak hanya itu, saya juga sangat ketakutan pada waktu itu. melihat badan si bayi yang baru lahir itu sudah berotot, terus nada suaranya sekilas terdengar seperti suara orang tua.
21 February 2013
Piluh, Hilang dan kapan kembali SEMANGATKU
Memang
akhir-akhir ini saya merasa sedikit tertekan. Saat malam, Tidur pun tidak
terasa, begitu pula dengan siang. Waktu ini terasa sangat cepat pergi berlalu
tanpa pamit. Bingung rasanya, apakah selama ini saya tertidur berselimutkan
awan malam..?. Pilu terasa sampe di
tulang, seakan menembus jantung yang penuh dengan harapan. Entah apalah itu, yang saya rasakan ini
adalah rasaku, bukan rasamu. Hanya saya
yang tau rasa itu, Rasa yang sangat menyiksa jiwa. Hidup dimasa-masa seperti
itu sangat tidak memberikan harapan yang pasti,
seakan mengejar mimpi yang belum tentu benar adanya.
Tidak seorang
pun mengetahui misteri kehidupannya. Saya pun demikian, tidak pernah mengira kalau masa sperti ini
akan saya lalui. Sungguh, orang bilang “hidup itu misteri yang harus diungkap”
itu memang benar adanya. Menempuh jalan
yang tidak seorangpun mengetahui kecuali Bapa yang menciptakanku. ini merupakan
sejarah dalam kehidupan saya. Melewatkan waktu berharga dengan kegiatan yang
tidak berarti. Hati kecilku berkata “Robi, ini bukan dirimu sebenarnya, kamu
adalah orang yang menghargai waktu”. Tapi apa dayaku, nasib berkata lain.
Diakhir bahagiaku, sedihku pun ku genggam. Perlahan, satu persatu orang yang
menjadi panutan, penasehat, sekaligus mativatorku pulang kembali ke pangkuan
sang Pencipta.
Lengkaplah semua
penderitaanku, “siapa ka, harapanku selanjutnya..?” sahutku dengan nada suara
yang putus-putus. Semangatku pergi berlalu. Jauh.....!! diatas awan-awan, yang
makin lama makin tidak jelas. Kata yang tepat untukku saat-saat tersebut adalah
“MENUNGGU” hingga semangat itu kembali ke sisiku bersama waktu yang sili
berganti. Sambil berharap ada mukjizat yang datang secara tak terduga. Tentunya
uluran yang tulus, tanpa pamri.
Di kesempatan
lain, saya menyadari kalau saat ini merupakan saat yang paling menentukan masa
depan. Kalau saya menyerah dengan keadaan ini, maka saya adalah orang yang
dilahirkan untuk lari dari masalah. Perasaan gunda-gulana, terus menerpa sudut-sudut hati seakan
berusaha untuk meluluhkan sisa-sisa semangat yang tersimpan.
Sore ini, saya
duduk termenung di dalam kamar yang terlihat sempit. Sempit karena penuh dengan
tumpukan-tumpukan buku yang tidak saya
butuhkan saat-saat tersebut. Teringat sekali di ingatan, pesan yang pernah
diberikan oleh seorang pendeta kepada mahasiswa Papua, di Aula Kamasan Papua
Bogor bahwa, “hidup itu seimbang, ada kalanya kita senang. Adapula waktunya
untuk kita bersedih” semua berjalan dengan dinamis. Di sela-sela kesempatan
tersebut pendeta juga mengatakan bahwa kebanyakan orang menikmati hidup disaat
orang tersebut dilanda masalah sehingga ingatan tersebut memberikan kesan bahwa
susah itu sangat menyulitkan dan memberikan kesan yang buruk. Seandainya bila
orang mau menikmati kesenangan maka mereka akan mengetahui betapa indahnya
kesenangan itu. Keduanya berjalan secara dinamis, tergantung dari pribadi kita
masing-masing untuk memaknainya, sahut pendeta
diakhir khotbahnya.
Saya baru sadar
kalau itu hanya cobaan bagiku. Saya harus lebih kuat dan berani melewati semua
dengan penuh semangat. Mungkin selama ini saya tidak terlalu memaknai hidup dan
terlalu terbawa kesenangan belaka. Bagiku, hal ini merupakan kenangan paling
tidak mengenakan sekaligus paling berharga karena tidak semua orang merasakan
hal yang sama. Pengalaman yang tidak bisa dibeli oleh uang, berapa pun
harganya.
Label:
pengalaman
05 February 2013
PERANTAU: Gelar itu penting tapi Skill lebih penting
![]() |
| Mama Papua Lagi anyam noken |
Pokoknya banyak skali target yang dong bikin. biar nanti dong selesai sesuai target yang telah ditetapkan. ditambah lagi dengan orang tua dong pu nasehat macam bikin kitong seakan bernafsu untuk menjalani sebagai mahasiswa dengan penuh semangat. namun, kata orang "jalan itu tidak selalu mulus". disana pasti torang temukan banyak-banyak kerusakan walaupun banyak orang setiap hari melewati jalan itu. begitu juga deng kitong pu hidup semasa kuliah, banyak masalah dan rintangan yang selalu menghadangi di depan. tapi, jangan salah, masalah itu membawa mereka tuk menyadari betapa pentingnya mereka. semakin banyak masalah yang dong hadapi maka mereka akan semakin banyak pengalaman & banyak berpikir sehingga akan menjadi modal yang plus kelak nanti.
Masalah-masalah ini juga sering membedakan cepat-lambatnya seorang dalam menyelesaikan masalah tersebut. sering juga masalah ini menjadi penghambat dalam perkuliahan seseorang sehingga menambah dong pu beban dalam berpikir maupun bertindak dimana saja dong ada. kalau sa boleh bilang ini menjadi batu sandungan buat dorang yang lambat dalam menyelesaikan studinya. di tambah lagi ada tekanan-tekanan yang datang dari kiri dan kanan. seakan bikin otak macam mau taputar ka..?. tapi, jangan takut dan yakin bahwa ko bisa mengatasi masalah yang ko hadapi itu. yakin dan berusaha bahwa ko bisa melewati itu dengan ko pu cara sendiri karena masing-masing orang itu punya cara sendiri tuk menyelesaikan masalah yang dong hadapi sendiri.
Banyak mahasiswa yang berpikir tuk menyelesaikan dong pu perkuliahan dengan nilai IPK yang memuaskan bahkan kumlaud. kenapa tidak, karena itu akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri ketika suatu saat ko kembali ke daerah. bahkan IPK ini sangat membantu ko saat mau melamar pekerjaan. untuk mencapai target itu, banyak orang rela menghabiskan seluruh waktunya tuk belajar.
yang menjadi pertanyaannya.. apakah itu yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang tua dong disana....?
Menurut sa pu pendapat, dapat IPK yang bagus tu merupakan hal yang luar biasa skali karena disana kitong pu kualitas secara individu memang teruji secara teoritis. tapi ko akan jadi lebih luar biasa kalau ko bisa menjadi contoh bagi ko pu masyarakat disana dan bisa berbagi ko pu skill itu bersama masyarakat disana biar dong juga bisa merasakan dan menerima skill itu. seperti mencari soft skill dan hard skill lainnya yang akan menjadi tenaga alternatif. masyarakat dong butuh bukti yang nyata bukan hanya sekedar nilai yang tidak teruji secara nyata di depan masyarakat.
kadang tong dsini pu waktu luang yang banyak skali. apalagi kalau su libur tu trada kerjaan sama sekali. pekerjaannya paling hanya bangun, tidur, makan, nonton. bgitu-bgitu saja. mungkin waktu itu kita bisa gunakan tuk mengasah kitong pu skil di bidang yang laen (diluar jurusan di kampus) yang minimal kira-kira dapat menambah wawasan buat ko dan lebih bagus lagi kalau ilmu itu dapat ko terapkan di ko pu daerah atau ko pu tempat tinggal nantinya.
tidak perlu cari pekerjaan yang susah, mungkin belajar perbaiki hp, komputer, TV, DVD, Tape, dll. tuk mengisi ko pu waktu luang. bukan ka..? hal diatas ini akan berguna nanti ..?
"yang sebenarnya masyarakat dong harapkan itu, suatu bukti yang nyata bukan teori"
God Bless
Label:
pengalaman
27 January 2013
Pace Kaliabo Keracunan Makanan
pace satu ne da keracunan makanan sampe su nafas-nafas terakhir jadi dia minta maaf ke dia pu maitua.
BACA SELENGKAPNYA.....
Pace: "mama, saya minta maaf e..? krn sa selingkuh dengan ko pu teman dekat Mince.
Mace: tra papa bapak
Pace: dengan ko pu adik Omni deng Sarlota juga.
Mace: iyo, sa su tau juga
Pace: dengan ko pu tanta Aksamina juga
Mace: Pace, pokoknya trapa2, smua sa su dengar. yang penting skrang ni bapak tenangkan pikiran dan bapa tidur diam saja. biarkan racun yang mama campur dengan makanan itu bekerja dengan baik.
Label:
Mob
Nene Ompong Naik Ojek
satu hari seorang nenek yang gigi ompong ne da naik ojek dari pasar ke rumah. Dalam perjalanan, ojek ngebut.
BACA SELENGKAPNYA.....
Nene bilang: "ade lali felan-felan...
baru ojek lari pelan-pelan.
karena lari terlalu lama jalan dan nene mungkin bosan jadi nene tanya: "ade, ini lali fake kiki belafa..?"
karena lari terlalu lama jalan dan nene mungkin bosan jadi nene tanya: "ade, ini lali fake kiki belafa..?"
ojek su terlalu emosi jadi ojek bilang: "ni lali fake kiki omfong...!!"
hahahahha... moga terhibur..
Label:
Mob
26 January 2013
Sebuah Sayatan di Hati
![]() |
| tataplah hari depan dengan segala harapan |
Dulu, waktu sa
masih kecil. suasana di kampung aman skali. Da pu masyarakat paling ramah,
kalau ada yang mau pindahkan rumah atau ada yang punya pekerjaan yang tidak
bisa dikerjakan sendiri tu dong saling bantu. Pokoknya paling rukun
sudah. Ditambah lagi dengan da pu tatanan budaya teratur rapi. Anak-anak muda
paling patuh terhadap orang tua di kampung, apalgi kepada kepala adat (kepala
desa) itu dong paling hormati skali. Kalau kepala desa suruh kerja, dong smua
rame-rame turun kerja. Diiringi dengan nyanyian adat “Yu Waita”. Nyanyian ini
seakan membakar semangat para pekerja untuk menyelesaikan tugas mereka. Sebesar
apapun dong pu tugas. Kalo dong su waita tu, tra lama lagi pekerjaan itu akan
selesai.
Sungguh, suasana
yang aman dan tentram. Pagi kalo matahari terbit tu, da pu awan susun rapi di kaki gunung seakan seperti tentara dong baris baru
kasih selamat pagi buat anak-anak sekolah yang dari dari pelosok dusun. Melewati
kabut awan yang menutupi sepanjang dong pu perjalanan. Sa ingat skali, kalo
pagi tu da pu dingin macam bikin tong tra kuat jalan. Kaki keram. Tapi bagi
anak sekolah, itu merupakan hal yang biasa. Saat pagi sperti itu da pu gunung tu
terlihat cerah skali. Trada awan yang tutup karena da pu awan su turun tuk
memberikan salam bagi warga situ. Terdengar suara kecil-kecil di bawah kaki gunung yang awalnya satu suara.
Lama-lama menjadi dua suara dan menjadi sekelompok suara yang serentak dong menyanyikan.
Ternyata itu adalah “yu waita” yang dinyanyikan oleh sekelompok anak kecil yang
sedang pergi ke sekolah tuk menimbah ilmu. Melewati gumpalan-gumpalan awan yang menutupi sepanjang
perjalanan itu. Ternyata lagu itu merupakan penyemangat mereka. Lagu itu juga
memberikan isyarat kepada teman-teman seumuran yang laen untuk segera bersiap dan
bersama tuk menuju tempat dimana dong menimbah ilmu.
Suasana saat itu
kental dengan budaya, ada sa pu teman-teman yang pake koteka ke sekolah. Waktu SD
kelas satu, dua. Itu bukan merupakan suatu yang baru bagi tong anak pribumi
karena memang hal itu sudah biasa dan itu memang tong pu budaya. Tapi sayang,
hal itu lama-kelamaan mulai hilang. Sejalan dengan datangnya banyak guru-guru
dan pedagang dari luar. Dong wajibkan kepada anak sekolah tuk berpakian
sekolah. Padahal, itu adalah tong warga pribumi pu pakean. Dong bilang itu tra
boleh karena kurang bagus tuk dilihat. Ditambah lagi dengan masuknya jalan raya
dari kota besar yang melewati sa pu kampung. Seakan membuat semua yang jauh
menjadi dekat. Dulu Nabire tu tong rasa paling jauh, tapi sekarang hanya berapa
jam saja su sampe lewat jalan darat. Banyak barang-barang baru masuk dari luar.
Membuat warga setempat tergoda dan bernafsu untuk memiliki barang tersebut. Tidak
terasa, perlahan tong pu tatanan budaya yang tersusun rapi tu mulai hancur. Anak-anak
mudah su mulai gabung dengan orang luar. Anak-anak itu terhanyut dengan
iming-iming yang dong kasih. Dampaknya, apapun
yang orang tua dong kasih tau tu anak mudah su tra mau ikut. Dong su rasakan
sesuatu yang lebih enak, disana dong dapat imbalan “mege” (uang) dengan gampang.
Dong kerja sedikit su dapat uang. Sapa juga yang tra mau kalau seperti itu. Pekerjaan
yang dulu dong biasa kerja secara sukarela itu mulai berubah.
Orang tua dong
suruh kerja bakti, anak muda dong bilang “mana uang”. Seakan uang itu menjadi
tuan mereka. Dong melawan ke orang tua, baru dong bilang “kam mau bayar pake
uang apa..? bikin rugi kita pu tenaga saja”. Banyak anak muda menjadi kurir
bagi orang pendatang di sa pu tempat. Banyak juga yang lupa tuk pergi ke
sekolah. Bagi mereka, yang penting su ada uang tu su cukup. Untuk apa pergi ke
sekolah tiap pagi tabrak awan dan angin. Bikin rugi saja, lebih baik kerja
sdikit tapi dapat mege. Itu sudah lebih dari cukup. Lama- lama, itu menjadi
kebiasaan yang susah dirubah. Sampai-sampai, dong mau jual dong pu tanah. Bagaimana
tidak, iming-iming yang dong kasih juga menggiurkan. Dong tra sadar, kalau
hidup itu tidak hanya sekarang saja. kam pu anak mau taruh dimana..?. pedagang
su mulai menempati tanah yang dong su beli tadi, di sana dong jual
barang-barang lebih mahal 2 kali lipat. (Bersambung…)
Label:
Renungan
Subscribe to:
Posts (Atom)





.jpg)